Posts

Showing posts with the label First We Met

First We Met : Future

Aku melirik ke kanan dan ke kiri, semua orang masih sibuk training di sini. Aku duduk di salah satu bangku stadion sembari melanjutkan karanganku. Sudah 2 jam menunggu di sini tidak membuatku merasa bosan, aku tidak akan pernah bosan, bahkan untuk menunggu disini setiap harinya pun. Old Trafford memang luar biasa. Old Trafford adalah impian masa kecilku. Pemandangan merah-merah yang mendominasi stadion ini dengan kolaborasi rumput lapangan yang hijau segar selalu membuatku merasa tenang. Rasanya begitu hebat bukan ketika kamu dapat sampai pada tujuanmu? "Sudah lama?" tanya Aline sambil mengobrak abrik isi tasnya. Aline adalah teman baruku. Dia juga sering berkunjung ke sini untuk menunggu kekasihnya training untuk persiapan kompetisi. Kurang lebih sama halnya denganku. Kami sering bercerita bersama, jadi sedikit banyak kami mengetahui tentang kami masing-masing. "Lumayan sih, udah 2 jam an," jawabku sambil memandang ke arahnya. Aline tampak bersemangat hari i...

First We Met : Our Best Days

Playlist : Taylor Swift - The Best Day *** ALLEN FARENCIA'S Terima kasih, Faza karena memberikanku ini! Kau adalah teman terbaik di dunia!! I'm five years old It's getting cold I've got my big coat on I hear your laugh And look up smiling at you I run and run Past the pumpkin patch And the tractor rides Look now -- the sky is gold I hug your legs and fall asleep On the way home 5 April 2005 Terima kasih, Faza sudah memberikan hadiah kecil ini. Kata ibuku, hadiahmu ini namanya adalah buku harian. Aku bisa menulisnya setiap saat yang aku mau. Caranya mudah, hanya perlu menuliskan tanggal lalu tulis perasaan hatiku saja. Ini pasti akan sangat seru! Terima kasih lagi ya, Faza! Kamu adalah teman terbaik yang pernah ada. Oh iya, ini adalah ulang tahunku ke 5. Ibuku mengajarkanku untuk menulis buku harian ini setiap harinya. Aku berjanji, aku akan selalu menulis buku harian ini setiap hari. 24 Oktober 2005 Hari ini aku main ke rumah Faza lagi. Faza memang te...

First We Met : All Those Promises

Siang itu aku berjalan menyusuri jalanan yang besar. Aku rela berdesak-desakan hari itu hanya untuk membeli tiket konser artis favoritku. Aku mengantre lebih dari 2 jam demi itu, dan sekarang aku sudah berada di antrian ke 10 dari depan. Benar-benar butuh perjuangan. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, rupanya peminat konser ini banyak juga. Tentu saja, siapa sih yang tak kenal dengan James Morrison? Artis keren itu akan datang ke Indonesia tahun ini! Ini merupakan sebuah konser yang harus aku tonton, dan aku tidak akan pernah melewatkannya.  "Eh hai!" kata seseorang yang tiba-tiba menepuk pundakku. Siapa juga orang yang datang kesini dan kenal denganku? "Oh, hai!" ujarku kemudian sambil sedikit tersenyum. "Beli tiket juga, nih?" tanya orang itu ramah. Dia tersenyum kecil, senyum yang sudah tidak asing lagi. Siapa, ya? Apa jangan-jangan.. "Lupa sama aku lagi?" tanya orang itu lagi memastikan. Parah, rupanya orang itu adalah kamu...

First We Met : Stars and Memories

Malam ini tak sedingin biasanya. Walaupun angin begitu sepoi-sepoi dan aku tak memakai jaketpun, aku tak merasa kedinginan. Sebenarnya ini bukan karena aku memakai lengan panjang dan jeans coklat favoritku itu, tapi karena satu hal yang begitu aneh, yang sebenarnya tidak ingin ku ungkapkan, tak ingin ku ceritakan kepada siapa saja. Ini semua sudah nyaman, sudah pas, sudah tepat dan tak perlu diubah-ubah lagi. Walau begitu aku tahu kalau ini tidak bisa bertahan untuk selamanya. Aku akan menikmatinya selagi masih boleh dan masih bisa. Kau ada di sampingku. Malam ini ada acara menonton film dengan teman-teman seumuranku yang sering main bareng. Mereka adalah teman-temanku dari kecil, singkatnya, mereka tetangga-tetanggaku. Kami sering meluangkan waktu untuk sekedar sepedaan bersama atau nonton film bersama sih. Jumlahnya tidak sebanyak dan seutuh saat dulu kami masih kecil dulu, sekarang kurang lebih tinggal 8 orang. Banyak teman-teman kami yang pindah atau bahkan kuliah. Malam ini, kam...

First We Met : Remind Me

Aku sedikit gugup hari itu, tentu saja, siapa yang tidak gugup karena ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah baru? Aku mencoba untuk sedikit rileks, dan yap, menenangkan diri sendiri. Aku berjalan menuju ke kelas yang akan jadi kelasku selama setahun ini sambil mencoba mengatur emosi. Seperti layaknya orang hilang, aku kebingungan dengan sekolah baru ini. Dan yang lebih buruk lagi, tak ada teman yang kukenal disini. Oh, betapa kerennya! Aku masih mencari-cari kelas yang akan menjadi kelasku, tapi semua kelasnya masih kosong, apa aku datang terlalu pagi? Sepertinya sih tidak. Karena benar-benar kebingungan dan tak tahu arah, akhirnya aku menuju ke arah gerombolan kakak-kakak OSIS, karena tak ada orang yang bisa kutanyai selain pengurus OSIS yang sedang mempersiapkan diri untuk acara pembuka hari pertama ajaran baru ini. Aku melangkahkan kaki menuju ke gerombolan kakak-kakak OSIS yang sepertinya sedang sibuk. "Eh, maaf mengganggu, Kak. Saya masuk di kelas berapa, ya?...

First We Met : That Smile

Aku duduk untuk menunggu siang itu, memang sudah terlalu panas. Kapan aku di jemput? pikirku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada tanda-tanda bahwa jemputanku akan lekas menjemputku. Sekolah itu telah sepi, dan buruknya lagi aku tak mengenal seorangpun di tempat ini. Aku berulang-ulang melihat ke arah jam tanganku untuk memastikan bahwa ini belum terlalu sore. Oh iya, jamku mati, baterainya habis. Aku lalu membuka handphoneku, baru ingat, baterainya habis juga. Huh.. Karena tak ada kerjaan, pada akhirnya aku hanya melihat bangunan-bangunan sekolah ini. Sekolah ini memang begitu asing bagiku, tentu saja, belum saatnya aku masuk sekolah setingkat SMA. Bangunannya kuno, tak sebersih sekolah yang kuhuni sekarang sih, tapi cukup nyaman juga. Mungkin satu tahun lagi, aku akan bersekolah di tempat ini pikirku. Aku melihat dari arah panggung pentas seni yang sempat heboh tadi, yap, aku juga sempat jadi bagian dari itu - aku pengisi acaranya. Masih banyak kakak-kakak panitia ...

First We Met : Who are you?

Hai. Ingat aku? Mungkin kau bahkan tak tahu siapa namaku, oh tenang, aku sebenarnya juga tak yakin tentang namamu. Tapi, entah kenapa aku masih yakin kalau kau mengetahuiku. Aku mengetahuimu saat itu, di hari apa akupun tak terlalu yakin. Aku bukan tipe pengingat yang baik. Kamu melihatku? Awalnya sih sebenarnya tidak. Aku yang tak sengaja melihatmu saat itu, lalu mengabaikanmu lagi. Sebenarnya, aku hanya bosan saja lalu melihat ke kanan dan ke kiri, dan aku melihatmu. Kamu duduk di beberapa kursi sebelahku. Kalau dilihat lihat sih, sepertinya sosokmu itu begitu misterius dan tidak banyak bicara. Tapi, yap, saat itu aku benar benar tak terlalu peduli dengan keadaan sekitar, lebih memilih melanjutkan membaca novel baruku ketimbang memperhatikan secara detail tentang semua orang. Namun, entahlah, apa ini cuma perasaanku saja atau memang benar terjadi, seperti ada seseorang yang melihat ke arahku; membuatku benar-benar tidak nyaman saat membaca novel baruku itu. Aku meliha...