Posts

Showing posts with the label Short Story

A Thing About Yogyakarta, 2024

Today, the tenth day of the year, I found myself laying in my bed when I finally realized that I should put into words the feelings I have been buried with all this time. I got a work-from-home day today, and it truly is a blessing. I closed all the work-tabs I should finish, and now, at 4.22 pm, I found myself listening to Stacey Ryan’s Fall In Love Alone in my favorite part of my flat - the aesthetic desk that is located just as perfect as the window staring at the blue sky outside. Last night, I tried to write a thing or two, using the google docs’ essay template. I started to write what I called ‘You, Memories’ - sounds cringe though, but I think I might use some of its parts in this writing. Hopefully, just hopefully, I can finally finish this writing and finally post it on my old-dusty-blog.  It has been a year and a half since that day. If I could define the state of emotion I am in right now, I am actually okay. I am very grateful for all the things that is currently happen...

But Chocolate...

Pertama-tama, aku mau minta maaf sebelumnya karena udah lama banget enggak ngeblog. Dan secara, ini adalah postingan pertamaku di tahun 2014 (cukup parah memang). Kedua, terima kasih atas semua kritik dan saran yang udah temen-temen berikan. Itu sangat membantu dan mendukung banget. Dan mulai sekarang, semoga postingan-postinganku bisa lebih variatif dan bermanfaat bagi para pembaca yaa :D Btw, sebentar lagi Valentine's Day nih. Kemarin, OSIS memberikan kepercayaan ke aku untuk membuat cerpen untuk madingnya OSIS yang bertema valentine. Kali ini, aku akan nge-share tentang cerpenku itu. Tapi perlu diketahui ini adalah naskah aslinya, sedangkan yang dipasang di mading OSIS sudah dalam bentuk editan dan lebih singkat. So, check this out :D *** Coklat lagi coklat lagi. Valentine tinggal menghitung hari tapi aku masih tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Valentineku setiap tahunnya terkesan biasa saja, sama seperti hari-hari yang lainnya, tidak ada yang spesial. Membag...

Bayangmu Mendengarku

Aku mengambil secarik kertas dan bolpoin saat pelajaran seni musik berlangsung. Seni Musik! Ya, yang paling kutunggu-tunggu adalah saat-saat seperti ini, saat kita boleh menciptakan lagu sendiri untuk ditampilkan di depan kelas beberapa minggu kedepan. Walaupun, ya, mungkin aku belum terlalu punya nyali untuk memberanikan diri maju dan menyanyikannya di depan teman-temanku. Tiba-tiba aku jadi teringat kamu yang sering menyanyikan lagu-lagu aneh saat aku duduk bersamamu. Ya, itu terdengar gila. Dan memang, aku sering berkata "Hentikan nyanyianmu!". Hahaha.. Itu terdengar lucu saat kamu tetap menyanyikannya, walau aku memaksamu untuk diam. Lagu-lagu itu sebenarnya keren, tapi mungkin nadanya kurang jelas. Apalah yang buatku ingin mengingat ulang lagu-lagumu itu.  Irama yang menyenandungkan pujian Nada yang menampilkan ketukan Suara yang sedang mendengarkan Telinga yang tak pernah bosan bersuara Buatku bingung kenapa bisa begitu Lagu itu untuk siapa? Semoga itu untukku ...

Ternyata Bukan Kamu

Like a satellite we're flying Overhead where we see it all. Nothing can touch us, we're everything and more. There's no turning back from this point. Reaching heights like never before. Nothing can touch us, we're everything, we're everything and more. Sudah lama aku tidak menulis tentang kamu. Entah karena apa, namun pada intinya aku terlalu sibuk hanya untuk meluangkan waktuku untuk menulis tentang ini. Intinya, ada banyak sekali hal yang ingin kuceritakan. Jujur saja, aku sudah lelah untuk dipojokkan teman-temanku mengenai tulisan-tulisan tentang kamu.  Iya, aku yakin kau pasti juga risih dengan teman-teman yang selalu memojokkan kita, kan? Sama, aku juga. Bukan, tulisan ini bukan kutujukan untuk kamu, toh semisal aku menulis ini untuk kamu, kau tidak akan menanggapinya juga, kan? Hahaha, terlalu tolol memang, tapi mau bagaimana lagi kalau memang begitu kenyataannya? I'd give anything to catch your eye So you could see me in a different ligh...

Diam Saja.

Belum seberapa lama kita baikan, kamu menjauh lagi. Belum seberapa lama semuanya kembali normal, kamu sepertinya mulai membenciku kembali. Namun, satu hal yang tak kau tau. Aku yang terlihat diam saja saat bertemu denganmu. Aku yang terlihat acuh-tak-acuh saat berpapasan denganmu. Aku yang tak pernah mau mengakui kebenarannya tentang hal itu. Aku yang tak pernah berbicara kepadamu lagi. Aku yang begitu kau benci dan kau jauhi. Aku yang terlihat biasa saja melihat sikapmu kepadaku. Selalu mengeluh mengapa hal buruk ini dapat terjadi. Selalu bertanya "Bagaimana perasaanmu jika kamu menjadi aku?" Kepada semua orang, hingga mereka begitu bosan mendengarkannya, saat aku telah menyia-nyiakan kesempatan yang begitu indah. Selalu merasa bodoh ketika kamu  hanya membaca chat ku dan tidak membalasnya. Selalu mendengarkan lagu bergenre galau yang kuputar berulang-ulang karena kamu selalu mengabaikanku. Selalu tak pernah berani untuk menunjukkan bahwa semuanya itu memang ...

Menangisi Tangisanmu

Hai, kamu! Bukan maksudku untuk mengusik-usik perasaanmu itu. Bukan inginku untuk menangisi hal yang memang tidak ditujukan untukku Bukan mauku untuk bersedih melihat perasaanmu yang teriris-iris karenanya Study tour ini sungguh menyenangkan, lima hari yang tak mungkin terlupakan Menghabiskan waktu bersama teman-teman di Pulau Dewata sungguh kenangan yang sangat indah Tapi ada satu yang buatku risih, teman Benarkah kau merasakannya juga? Iya, aku tahu ini memang bukan urusanku Dan bahkan ini adalah hal yang begitu mendalam bagimu Melihat mereka berdua berjalan bersama, pergi berdua bersama, bahkan duduk berdua di bis sungguh mengiris-iris perasaanku Padahal, mereka bukan urusanku Padahal, ini soal perasaan hatimu Seharusnya, kamu yang merasa tersayat-sayat oleh mereka Seharusnya, kamu yang begitu bersedih dan sakit hati Dan bukannya aku yang merasa begitu tercabik-cabik Di saat mereka berdua saling menggenggam tangan di bawah terang sinar matahari Pantai Kuta, tak habis...

Menunggu

Menunggu? Hal yang menyebalkan? Tidak juga. Hanya saja sedikit.. membosankan. Bukan, pernyataan bahwa cewek harus selalu menunggu itu benar-benar salah. Tidak, aku tidak sedang menunggu seseorang. Bukan, aku bukannya penakut. Sungguh.. Namun, ya, mungkin aku belum terlalu punya nyali hanya untuk sekedar berbicara tentang omong kosong denganmu. Padahal, kau begitu dekat denganku sekarang, walaupun masih terhalang 'jarak' yang telah tidak otomatis kita temukan. Kecanggungan, ketakutan itu selalu membuatku mengurungkan niat hanya untuk sekedar bisa berbicara denganmu. Konyol? Iya. Kamu berani? Benar sekali. Entahlah, kecanggungan ini memang berawal karena hubungan kita yang agak menjauh ini. Kita teman, aku tahu itu. Namun selalu saja ada yang membuat kita menjadi berjarak. Jujur saja, aku amat membenci hal-hal yang telah membuat kita jauh seperti ini. Aku juga membenci hal-hal yang telah buat setiap percakapan kita menjadi canggung. Tahukah kamu? Kalau boleh ...

Penyesalan Datangnya di Akhir

Semua orang punya rencana, kan? Iya, aku juga. Aku juga punya rencana. Pagi ini, sudah banyak pikiran tertanam dalam otakku. Ulangan Fisika, Hukum I-III Newton, gaya gesek, rumus-rumus berat jenis dan berat benda, tak lupa rumus untuk mencari resultan gaya itu apa. Huh, namanya juga kehidupan sekolah. Iya, tak lepas dari kata M-E-N-G-H-A-F-A-L. Belum lagi Ulangan Agama, arti-arti persahabatan, buah-buah dari persahabatan, dan juga unsur-unsur pendukung persahabatan. Yang ini, sih masih bisa diajak kompromi. Ohya! Script Drama Inggris! Aku harus menghafalkan semua bagian dari itu. Heran, weekend, dengan beribu tugas tercantum dalam buku tugasku! Pikiran lainnya? Ya, siapa lagi kalau bukan kamu. Hari ini aku sudah membuat skenario untukmu. Sampai di sekolah, aku meletakkan tas ku. Buku cetak ada empat-belas, masuk akal! Bangkuku paling depan, kutaruh tasku di dekatnya dan membuka script drama inggris. Rosaline, tokoh yang akan kuperankan nantinya. "I'm sorry Rom...

Apa Artinya?

Sudah lama aku tak membuat tulisan tentangmu lagi. Ada apa? Apa aku melupakanmu? Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku melupakan sosokmu begitu saja, justru akhir-akhir ini sosokmulah yang terus mengganggu dan mengusik kenyamananku denganmu. Aneh, satu kata yang tepat untukmu. Hari setelah acara itu, segalanya seperti berubah begitu saja. Entah apa yang merasuki pikiranmu tiba-tiba itu, sehingga tak banyak yang dapat kutebak dari semua tanda kutip yang kamu buat. Kamu berubah seratus-delapan-puluh-derajat daripada biasanya. Kamu menjadi sosok yang baik, sangat baik malah. Setelah aku bertanya "Apa kamu sedang marah denganku?" Kamu menjawabnya dengan tegas,"Tidak. Tentu saja tidak. Kamu adalah teman yang sangat baik." Karena pesan singkat itulah kamu berubah begitu baik denganku. Hal-hal yang selama ini kurindukan kini muncul kembali. Rupanya, sosokmu bagiku tetap saja tidak berubah, walau tentu saja pasti banyak perubahan antara kita sekarang. Kam...

Kamu Salah Menilai Kami, Temanku

Postingan ini kutulis ditengah kesibukanku, belajar untuk ulangan besok. Kenapa? Apa aku memperhatikanmu selalu akhir-akhir ini, temanku? Ya, bagaimana mungkin aku bisa tidak memperhatikanmu terus akhir-akhir ini? Kamu yang selalu menulis segalanya tentang aku dan teman-teman dekatku di twitter telah buatku resah. Kamu selalu menulis tentang hal-hal negatif tentang teman dekatku, yang cukup menguras emosinya pula. Kamu yang menyindirku habis-habisan di twitter malah bersikap ramah denganku saat kita chatting dan bertemu. Kamu yang telah biarkan orang-orang mengetahui hal-hal yang cukup jahat saat kau ceritakan hal yang tidak benar kepada mereka, membuatku khawatir. Sebenarnya, apa yang buat kamu begitu membenci kami? Biar aku tegaskan, teman. Tidak, semua hal negatif tentang kami yang kamu ceritakan itu salah. Kami berteman, berteman dekat, bersahabat yang sangat dekat. Bukan, kami bukan kelompok inklusif yang menutup teman-teman lain untuk berteman dengan kami. Kami tidak p...